Pages

Labels

Jumat, 07 Mei 2010

Apa mehndi?

Mehndi adalah seni tradisional melukis henna di India dan Timur Tengah. Anda dapat melihat itu ditulis sebagai mehandi, mehendi, mendhi, pacar, al-pacar, dan berbagai nama lain dan ejaan. Belakangan ini, Amerika Serikat seniman henna datang untuk menunjukkan seni dengan "istilah Henna Body Art." Semua kata-kata ini menggambarkan bentuk seni yang sama abadi, melukis tubuh untuk acara-acara meriah. Namun mengejanya, mehndi dilafalkan meh-ayam-di (dengan suara, lembut d gigi seperti "engkau").

akai dalam berbagai desain, yang bisa berkisar dari besar, pola tebal untuk pola geometris Untuk membuat pewarna tersebut, henna (mehndi) daun kering dan halus. Bubuk yang disaring hasil dua kali atau lebih melalui kain nilon halus. Hasil proses ini mengeluarkan serat kasar dari bubuk, membuat apa yang tersisa lebih halus dan lebih mudah digunakan. seniman kemudian campuran ini serbuk halus dengan minyak (seperti eucalyptus, nilgiri, atau minyak mehndi) dan cairan lainnya (lemon, air, atau teh), membuat pasta tebal. pasta ini diterapkan untuk tangan si pemMaroko untuk paisleys India tradisional dan gambar-seperti renda. Semua tergantung pada kemampuan seniman dan gaya desain yang digunakan. Solusi jus lemon dan gula kemudian diaplikasikan ke mehndi pengeringan untuk membiarkannya tetap menempel di kulit dan meningkatkan proses sekarat.

HUKUM MEMAKAI HENNA


Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata : “Tidak apa-apa berhias dengan memakai inai, terlebih lagi bila si wanita telah bersuami dimana ia berhias untuk suaminya. Adapun wanita yang masih gadis, maka hal ini mubah (dibolehkan) baginya, namun jangan menampakkannya kepada lelaki yang bukan mahramnya karena hal itu termasuk perhiasan. Banyak pertanyaan yang datang dari para wanita tentang memakai inai ini pada rambut, dua tangan atau dua kaki ketika sedang haidh. Jawabannya adalah hal ini tidak apa-apa karena inai sebagaimana diketahui bila diletakkan pada bagian tubuh yang ingin dihias akan meninggalkan bekas warna dan warna ini tidaklah menghalangi tersampaikannya air ke kulit, tidak seperti anggapan keliru sebagian orang. Apabila si wanita yang memakai inai tersebut membasuhnya pada kali pertama saja akan hilang apa yang menempel dari inai tersebut dan yang tertinggal hanya warnanya saja, maka ini tidak apa-apa.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, 4/288).

0 komentar:

Poskan Komentar